
Bumi Daya-Palas, (08/11/25). Dalam suasana yang penuh semangat dan keceriaan, seluruh siswa SMP Negeri 2 Palas bersama dengan para guru mereka melaksanakan panen raya di kebun agroeduwisata sekolah. Acara ini, yang berlangsung pada tanggal 8 November 2025, merupakan puncak dari kegiatan kokurikuler yang telah direncanakan sejak awal semester. Kebun agroeduwisata ini bukan hanya sekadar lahan pertanian, tetapi juga menjadi sarana pendidikan praktis bagi siswa untuk belajar tentang pertanian organik, keberlanjutan lingkungan, dan nilai-nilai kewirausahaan.

Kegiatan panen raya ini melibatkan semua siswa dari kelas VII hingga IX, yang dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelas masing-masing. Para guru, baik dari bidang studi umum maupun ekstrakurikuler, turut mendampingi sebagai pembimbing dan motivator. Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Palas, Ibu Nancy Foedztida Rasyid, M.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerja sama, dan kecintaan terhadap lingkungan. “Melalui kebun agroeduwisata ini, siswa belajar bahwa pendidikan tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan,” ujarnya.
Kebun agroeduwisata SMP Negeri 2 Palas telah dibentuk sejak beberapa waktu sebelumnya dengan nama lain Kebun Toga sebagai bagian dari program sekolah ramah lingkungan. Lahan kebun ini ditanami berbagai jenis sayuran organik yang cocok dengan iklim tropis disekolah. Tanaman yang dipanen pada hari itu antara lain pakcoy, kangkung, daun singkong. Setiap jenis tanaman ini dipilih karena mudah dibudidayakan oleh siswa dan memiliki nilai edukasi tinggi. Pakcoy, misalnya, diajarkan sebagai sayuran hijau yang kaya nutrisi dan cepat panen. Kangkung dan daun singkong menjadi favorit karena tahan terhadap hama dan bisa dipanen berkali-kali. Persiapan panen raya dimulai sejak pagi hari. Siswa-siswa tiba di kebun dengan penuh antusiasme, membawa alat-alat seperti keranjang, gunting panen, dan sarung tangan. Guru-guru membagi tugas: kelompok satu bertugas memanen pakcoy dan kangkung, kelompok lain fokus pada daun singkong. Proses panen dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan tanaman tidak rusak, sehingga bisa terus tumbuh untuk panen selanjutnya. Banyak siswa yang terlihat bersemangat, saling berbagi tips dan trik yang mereka pelajari dari pelajaran kokurikuler sebelumnya.
Setelah panen selesai, hasil panen dikumpulkan di area penjualan yang telah disiapkan di halaman sekolah. Tanaman segar ini dijual kepada guru, kantin sekolah yang datang khusus untuk membeli. Harga yang ditetapkan cukup terjangkau mulai harga Rp. 3.000 s/d Rp. 5.000 per ikat, Penjualan ini tidak hanya sebagai praktik kewirausahaan, tetapi juga sebagai cara untuk mendidik siswa tentang nilai ekonomi. “Dengan menjual hasil panen, siswa belajar tentang manajemen keuangan dan pentingnya siklus ekonomi di masyarakat,” jelas Guru IPS, Bilal Fakhrudin, S.Pd.

Hasil penjualan panen dimasukkan ke dalam kas kelas masing-masing. Setiap kelas mendapat bagian sesuai dengan kontribusi mereka dalam panen. Uang ini akan digunakan untuk keperluan kelas, seperti membeli perlengkaan kelas, bahan praktikum, atau bahkan dana untuk kegiatan sosial. Kegiatan panen raya ini juga mendapat dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar. Beberapa orang tua menitipkan uang belanja kepada para siswa untuk membantu dan membeli produk.
Dari segi lingkungan, kebun agroeduwisata ini menjadi contoh praktik pertanian berkelanjutan. Siswa diajarkan menggunakan pupuk organik dari kompos daun dan limbah dapur, serta pengendalian hama alami seperti menggunakan tanaman pendamping. Ini sejalan dengan program sekolah untuk mengurangi jejak karbon dan mendukung ketahanan pangan lokal. Selain aspek akademik, panen raya ini juga membangun karakter siswa. Mereka belajar tentang kerja tim, disiplin, dan tanggung jawab. Banyak siswa yang awalnya ragu akhirnya merasa percaya diri setelah berhasil memanen dan menjual produk mereka. “Ini seperti bisnis kecil-kecilan, tapi sangat mengasyikkan,” kata Fitri, siswa kelas IX E. Para guru juga merasa puas karena siswa lebih aktif dan kreatif dalam kegiatan sekolah.
Secara keseluruhan, panen raya kebun agroeduwisata pada 8 November 2025 adalah bukti nyata bahwa pendidikan bisa menyenangkan dan bermanfaat. Dengan melibatkan siswa secara langsung, sekolah tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan keterampilan yang akan berguna seumur hidup. Kegiatan kokurikuler ini menginspirasi siswa untuk terus belajar dan berkontribusi pada masyarakat, sambil menjaga kelestarian lingkungan. Dalam era di mana teknologi mendominasi, inisiatif seperti ini mengingatkan kita bahwa pendidikan holistik meliputi aspek fisik, emosional, dan sosial. SMP Negeri 2 Palas telah menunjukkan bahwa sekolah bisa menjadi pusat inovasi dan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Semoga kegiatan serupa diadopsi oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia, untuk menciptakan generasi muda yang lebih tangguh dan berwawasan lingkungan.
Creator : Maz_BilL